Bukan Sekadar Masjid, Buku Ini Ungkap Jejak Islam dan Kerukunan di Banten

Bukan Sekadar Masjid, Buku Ini Ungkap Jejak Islam dan Kerukunan di Banten

SERANG, 3 Oktober 2026 — Sejarah sebuah masjid tidak hanya berkaitan dengan bangunan dan kepemimpinannya, tetapi juga dapat menjadi pintu untuk memahami perkembangan keagamaan, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut tergambar dalam buku Sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang yang diserahkan kepada Gubernur Banten Andra Soni dalam rangkaian Karnaval Panjang Mulud tingkat Provinsi Banten, Sabtu (3/10/2026), di Gedung Negara, Rumah Dinas Gubernur Banten.

PENYERAHAN BUKU — Dr. H. Fadlullah menyerahkan buku Sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang kepada Gubernur Banten Andra Soni dalam rangkaian Karnaval Panjang Mulud tingkat Provinsi Banten di Gedung Negara, Rumah Dinas Gubernur Banten, Sabtu (3/10/2026).

Buku tersebut diserahkan Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si., Ketua Bidang Imaroh Masjid Agung Ats-Tsauroh sekaligus Dekan FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), bersama para penulis. Karnaval Panjang Mulud tahun ini untuk pertama kalinya digelar dalam skala Provinsi Banten dan melibatkan masyarakat dari berbagai daerah.

Buku tersebut mendokumentasikan sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh, termasuk kepemimpinan, para penggerak, serta peran masjid dalam kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Kota Serang. Dokumentasi ini penting karena sejarah sebuah tempat ibadah juga menjadi bagian dari sejarah masyarakat yang tumbuh di sekitarnya.

Nama Ats-Tsauroh sendiri memiliki latar sejarah. Nama tersebut disematkan pada Masjid Pegantungan, Kota Serang, atas usul Prof. KH. Syadeli Hasan, ulama dan alumni Perguruan Islam Al-Khairiyah. Penamaan itu berkaitan dengan tradisi perjuangan ulama Banten, termasuk KH. Syam’un dan Ki Wasyid dari Bojonegara. Dalam bahasa Arab, ats-tsaurah berarti “revolusi” yang berkaitan dengan gagasan perubahan dan pembaruan.

Dalam konteks yang lebih luas, sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Islam di Banten. Jejak sejarah kawasan tersebut berkaitan dengan sejumlah pusat keislaman, mulai dari jejak Agus Ju dan Mas Jong, Masjid Kuno Kaujon, Kasunyatan, hingga Masjid Agung Banten.

Baca Juga:  FKIP Untirta Mantapkan Langkah Pembangunan Sekolah Laboratorium melalui Refleksi Program Kerja 2026

Perkembangan Islam Banten juga berlangsung melalui jaringan dakwah, perdagangan, dan keilmuan yang menghubungkan Banten dengan Cirebon, Kudus, Tuban, dan Ampel, hingga jaringan yang lebih jauh seperti Aceh, Gujarat, Sri Lanka, Makkah, Madinah, dan Al-Aqsa. Jaringan tersebut turut membentuk perkembangan pengetahuan, ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan keagamaan masyarakat.

Masjid Agung Ats-Tsauroh juga berada di tengah masyarakat yang majemuk. Di lingkungan sekitarnya terdapat komunitas dan tempat ibadah dari latar keagamaan yang beragam, termasuk Gereja Katolik Kristus Raja dan GKI. Kondisi tersebut menjadikan sejarah masjid juga relevan untuk melihat perjalanan kehidupan masyarakat Kota Serang dalam keberagaman dan kerukunan.

Penerbitan buku ini sekaligus menunjukkan pentingnya tradisi literasi dalam menjaga ingatan kolektif. Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. sebelumnya turut mendirikan UNTIRTA Press pada 2004 bersama Wan Anwar, Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Diksatrasia), budayawan dan penggerak Majalah Horison. Penerbitan menjadi salah satu sarana untuk mendokumentasikan pengetahuan, sejarah, kebudayaan, dan gagasan.

Dengan demikian, Sejarah Masjid Agung Ats-Tsauroh Kota Serang tidak hanya menjadi catatan mengenai sebuah bangunan, tetapi juga sumber pembelajaran mengenai sejarah Islam, perjalanan masyarakat, literasi, kebudayaan, serta kerukunan di Banten. Penyerahan buku dalam rangkaian Panjang Mulud menjadi momentum yang mempertemukan tradisi keagamaan dan tradisi literasi untuk menjaga pengetahuan sejarah agar tetap dapat dipelajari generasi berikutnya.

Scroll to Top