Diuji Level Pedas Mie Gacoan, Mahasiswa Thailand Ini Akui Kalah: Kisah di Balik Pembukaan Summer Camp Tiga Negara di Untirta
SERANG — Sore itu, di atas panggung Ruang Multimedia Gedung Rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), seorang mahasiswi asal Thailand mengaku menyerah. Ia yang datang dari negeri yang terkenal dengan masakan pedas itu mengatakan, lidahnya justru “kalah” saat mencicipi Mie Gacoan, kuliner asal Indonesia yang tingkat kepedasannya, menurutnya, jauh melampaui makanan pedas favoritnya di Thailand. Pengakuan ringan itu disambut tawa riuh para peserta yang memenuhi ruangan, dan menjadi salah satu momen paling hangat dalam pembukaan International Summer Camp 2026 yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untirta, Senin (24/8/2026).
Cerita soal sambal itu hanyalah satu dari banyak momen yang mewarnai hari pertama fase pembelajaran langsung (on-site) dari program pertukaran akademik dan budaya bertajuk “Learning Sustainability through Culture and Nature”. Program ini mempertemukan mahasiswa dari tiga negara sekaligus, yaitu Indonesia, Malaysia melalui Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), dan Thailand melalui Mahasarakham University (MSU) — kombinasi yang, menurut panitia penyelenggara, baru pertama kali terjadi dalam sejarah kegiatan pertukaran pelajar di kampus tersebut. Rangkaian kegiatan tatap muka ini dijadwalkan berlangsung hingga 4 September 2026 di Banten.
Seremoni Pembukaan dan Harapan dari Para Pemangku Kepentingan
Acara pembukaan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Untirta, dan Mars FKIP, dilanjutkan pembacaan doa serta pemutaran video profil Untirta dan FKIP. Ketua Pelaksana Summer Camp 2026, Pipit Marianingsih, S.Si., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan akademik, melainkan juga sebagai ruang bagi peserta untuk belajar, menjelajah, berkolaborasi, dan mengalami keberagaman budaya secara langsung. Selama fase tatap muka, peserta juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah situs budaya Banten, termasuk Museum Banten, Kampung Pikinjeun, dan kawasan Baduy.
Dekan FKIP Untirta, Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si., menyebut program ini sebagai wujud komitmen fakultas dalam mendorong kolaborasi internasional dan pemahaman lintas budaya di kalangan generasi muda se-Asia Tenggara. Ia turut menyampaikan bahwa pengalaman selama Summer Camp berpotensi dikembangkan menjadi karya akademik, termasuk sebagai alternatif bentuk tugas akhir di luar skripsi, sesuai ketentuan yang berlaku.
Rangkaian sambutan ditutup oleh Rektor Untirta, Prof. Dr. Ir. H. Fatah Sulaiman, S.T., M.T., yang secara resmi membuka kegiatan. Dalam pernyataannya, Rektor menyebut Summer Camp bukan sekadar kegiatan tambahan di luar kelas, melainkan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi bagi mahasiswa, masyarakat, dan institusi di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia berharap dampak program ini dapat dirasakan setelah kegiatan berakhir, melalui pengetahuan dan jejaring yang dibawa peserta kembali ke kampus masing-masing.
Panggung Talkshow: Cerita Hangat Tiga Negara
Setelah sesi foto bersama dan pengenalan program, forum diisi dengan talkshow yang menghadirkan tiga perwakilan mahasiswa dari masing-masing negara peserta: Ade Khusnul Khotimah dari Untirta, Nur Soffiah Faqiehah binti Ahmad Bukhori dari USIM, dan Parinyaphon “Baitoey” Phothong dari MSU. Ketiganya berbagi cerita dan kesan mengikuti program pertukaran akademik dan budaya lintas negara tersebut di hadapan seluruh peserta dan tamu undangan.
Suasana berlangsung akrab, apalagi ketika perbincangan menyentuh topik kuliner dan ketiganya saling merekomendasikan makanan khas negara masing-masing. Momen itulah yang melahirkan pengakuan spontan dari perwakilan mahasiswa Thailand soal level pedas Mie Gacoan — sebuah detail kecil yang, di tengah agenda seremonial yang formal, memperlihatkan sisi personal dan cair dari pertemuan lintas budaya ini.
Menjelajah Kampus, dari Rak Buku hingga Bengkel Las
Memasuki siang hari, agenda berlanjut ke campus tour yang dipandu oleh bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Untirta bersama sejumlah Liaison Officer (LO) dan mahasiswa pendamping. Tur dimulai dari Perpustakaan Untirta, tempat peserta diperlihatkan koleksi buku dan jurnal serta berbagai fasilitas penunjang riset dan pembelajaran.
Dari perpustakaan, rombongan diarahkan ke sejumlah laboratorium unggulan kampus. Di Nanomaterials Laboratory, peserta diperkenalkan dengan berbagai unsur dan material, termasuk material batuan, serta peralatan yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Kunjungan berlanjut ke Biotechnical Laboratory, tempat peserta melihat langsung mesin dan peralatan yang digunakan dalam riset bioteknologi beserta penjelasan fungsi masing-masing alat.
Titik yang tidak kalah menarik perhatian adalah Welding Center, fasilitas pengelasan milik Untirta. Di sana, peserta menyaksikan simulasi tiga dimensi proses pengelasan yang biasa digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan praktik mahasiswa — pengalaman yang oleh sebagian peserta disebut sebagai hal baru yang jarang mereka temui di kampus asal masing-masing.
Rangkaian campus tour hari itu ditutup dengan kunjungan ke rooftop Fakultas Pertanian (Faperta), tempat peserta menikmati ruang terbuka hijau di lingkungan kampus sekaligus melepas penat setelah agenda seremonial dan kunjungan laboratorium yang cukup padat sejak pagi.
Fase Baru Setelah Dua Pekan Belajar Daring
Pembukaan on-site ini menandai babak baru International Summer Camp 2026 FKIP Untirta, setelah sebelumnya peserta menjalani pembelajaran daring selama dua pekan pada 10–23 Agustus 2026. Fase daring tersebut mencakup enam mata kuliah: Study of Banten Heritage, Banten Traditional Art Practice, Ecotourism, BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing), Community Empowerment, Social Innovation and Psychological Support, serta Technology and Digital Transformation.
Selama fase tatap muka yang berlangsung hingga 4 September 2026, peserta dijadwalkan mengikuti sejumlah agenda lanjutan, mulai dari sit-in class di berbagai mata kuliah, latihan angklung dan gamelan, hingga kunjungan lapangan ke situs budaya dan sejarah seperti Kaibon Banten dan Benteng Speelwijk di Banten Lama, penjelajahan budaya di Baduy Luar (Ciboleger), serta kegiatan pengabdian bersama masyarakat di Kampung Pekijing-Taktakan.
Dengan tema “Learning Sustainability through Culture and Nature” dan slogan “Explore Culture; Empower Future”, panitia berharap program ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa dari tiga negara untuk memperluas wawasan akademik dan memperkuat kompetensi antarbudaya. Namun sebagaimana disinggung Rektor Untirta dalam sambutannya, ukuran keberhasilan sesungguhnya baru akan terlihat setelah program usai — sejauh mana pengalaman, jejaring, dan inspirasi yang diperoleh peserta benar-benar dibawa pulang dan dikembangkan menjadi manfaat nyata di kampus dan komunitas masing-masing.

