Angklung dan Kawih Banten Pikat Peserta International Summer Camp 2026 Untirta

Angklung dan Kawih Banten Pikat Peserta International Summer Camp 2026 Untirta

SERANG — Suasana Kampus Ciwaru, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), pecah oleh denting angklung pada Selasa (25/8/2026). Bukan mahasiswa lokal semata yang memainkannya, melainkan puluhan peserta International Non-Degree Student Program atau yang lebih dikenal dengan Summer Camp 2026, yang untuk pertama kalinya mencoba memegang dan mengocok alat musik bambu khas tanah Sunda tersebut.

Hari itu menjadi hari kedua dari rangkaian kegiatan on-site Summer Camp 2026, program yang mempertemukan mahasiswa asing dengan kebudayaan lokal Banten. Sepanjang hari, para peserta diajak mendalami dua kesenian tradisional sekaligus: angklung dan kawih Sunda-Banten, dua warisan budaya yang, dari pantauan di lapangan, masih terdengar asing bagi sebagian besar peserta ketika sesi baru dimulai.

Peserta Summer Camp 2026 berfoto bersama usai sesi latihan angklung di Kampus Ciwaru FKIP Untirta. (Foto: Dok. FKIP Untirta)

Sesi dibuka dengan pengarahan singkat mengenai rute kegiatan dan pembagian kelompok kecil. Sebanyak 25 mahasiswa dari berbagai negara kemudian mengikuti kelas angklung yang dipandu dua dosen Pendidikan Seni Pertunjukan Untirta, Rian dan Yogi. Pengajaran dimulai dari hal paling dasar: cara memegang dan mengocok angklung yang benar, sebelum peserta diajak mencoba nada dasar dan lanjut ke lagu “Sarinande”. Diiringi petikan gitar dari salah satu dosen pembimbing, seluruh peserta memainkan lagu tersebut secara bersama-sama — pemandangan yang tak biasa ditemui di ruang kelas kampus pada hari-hari biasa.

Peserta berlatih memegang dan mengocok angklung secara berpasangan sebelum memainkan nada dasar bersama. (Foto: Dok. FKIP Untirta)

Instrumen bambu yang mereka mainkan siang itu bukan sekadar alat musik biasa. Angklung Banten dikenal sebagai kesenian yang tumbuh sejak era kerajaan dan tradisi agraris masyarakat Sunda Banten, dan bertahan hingga era modern lewat berbagai upaya pelestarian. Bambu sebagai bahan dasarnya kerap dimaknai sebagai simbol kelenturan, ketangguhan, kesederhanaan, sekaligus kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Di tengah masyarakat, angklung juga berfungsi sebagai media ritual adat, hiburan, pendidikan karakter, dan komunikasi budaya, sekaligus simbol gotong royong dan kebersamaan. Nilai-nilai itulah yang coba ditanamkan kepada peserta Summer Camp 2026 lewat latihan langsung bersama dosen pembimbing dan sesama peserta lintas negara.

Baca Juga:  Jejak Kesultanan Banten Pikat Peserta International Summer Camp 2026 Untirta
Latihan angklung berlangsung interaktif, dengan peserta saling membantu menyesuaikan nada di antara sesama kelompok. (Foto: Dok. FKIP Untirta)

Memasuki siang hari, sesi berganti ke latihan Sunda Ngawih bertajuk “Sunda-Banten Song Practice”. Mahasiswa asing yang sebelumnya belum pernah mendengar bahasa daerah Banten diajak menyanyikan lagu “Debus Banten”, diiringi alat musik yang dimainkan langsung oleh dosen pendamping. Setelah berlatih bersama, perwakilan dari tiga universitas mencoba tampil menyanyikan lagu tersebut secara mandiri, melengkapi latihan angklung di pagi hari sebagai satu rangkaian pertunjukan seni tradisional Banten.

Dosen pendamping memainkan alat musik pengiring saat sesi latihan kawih “Debus Banten” berlangsung. (Foto: Dok. FKIP Untirta)

Bagi penyelenggara, latihan angklung dan kawih ini bukan sekadar pengenalan seni budaya, melainkan bagian dari upaya membangun kolaborasi lintas budaya melalui praktik langsung, sejalan dengan tema besar Summer Camp 2026, “Learning Sustainability through Culture and Nature”. Sesi serupa dijadwalkan kembali digelar pada 28 Agustus mendatang, sebelum seluruh hasil latihan peserta dari berbagai negara ini ditampilkan dalam pertunjukan “ASEAN Friends Angklung Performance” pada momen penutupan program, awal September 2026.

Scroll to Top