Dua Hari di Kampung Baduy Luar: Peserta International Summer Camp 2026 Belajar Adat Langsung dari Sumbernya
LEBAK — Salah satu pengalaman yang paling dinantikan dalam rangkaian on-site International Summer Camp 2026 akhirnya tiba: field trip ke kawasan Baduy, Kabupaten Lebak, Banten. Selama dua hari satu malam, Senin hingga Selasa (31 Agustus–1 September 2026), peserta yang terdiri dari mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), dan Mahasarakham University asal Thailand, tinggal berbaur langsung bersama masyarakat adat Baduy Luar.
Bagi penyelenggara, kegiatan ini dinilai penting karena memberi kesempatan kepada peserta untuk mengenal kehidupan masyarakat Baduy secara langsung, tidak hanya lewat pembelajaran di dalam kelas. Peserta diajak memahami bagaimana masyarakat Baduy mempertahankan adat istiadat, tradisi, dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman, termasuk memahami perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, hingga bagaimana warga menjalankan kehidupan sehari-hari berdasarkan aturan dan nilai-nilai adat yang berlaku. Lewat observasi dan sesi berbagi langsung, peserta memperoleh gambaran yang jauh lebih nyata mengenai budaya Banten dan keberagaman masyarakat Indonesia, sesuatu yang sulit didapat hanya dari literatur.
Perjalanan hari pertama dimulai dengan pengarahan singkat di Kampus Ciwaru, sebelum rombongan diberangkatkan menuju Terminal Ciboleger. Setelah beristirahat dan makan siang, peserta melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati Kadu Ketug, Desa Cipondoh, hingga Kadugede, menuju Kampung Balingbing, yaitu tempat mereka menginap semalam di rumah warga Baduy Luar. Sore harinya, peserta mengikuti diskusi budaya bersama tokoh masyarakat adat, dilanjutkan dengan makan malam dan beristirahat di tengah suasana kampung adat yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan modern.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi peserta adalah kesempatan menyaksikan langsung proses pembuatan tas koja, mulai dari bahan yang digunakan hingga tahap pembuatannya. Tas ini merupakan salah satu hasil kerajinan yang memperlihatkan keterampilan sekaligus pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat Baduy. Peserta juga berkesempatan mengamati proses pewarnaan benang dan menenun secara langsung, pengalaman yang memperlihatkan bagaimana keterampilan tradisional diwariskan dari generasi ke generasi dan tetap dipertahankan hingga kini.
Selain observasi, peserta turut mengikuti sharing session yang membahas berbagai aspek kehidupan masyarakat Baduy. Topik yang dibahas antara lain perbedaan kehidupan dan aturan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar, alasan masyarakat Baduy menikah pada usia yang relatif muda, serta sistem pemerintahan dan kehidupan sosial yang berlaku di tengah masyarakat adat. Lewat sesi ini, peserta mendapat kesempatan bertanya langsung kepada masyarakat setempat mengenai adat, kehidupan sosial, perkawinan, hingga tata kelola pemerintahan yang mereka jalankan secara turun-temurun.
Memasuki hari kedua, peserta memulai pagi dengan sarapan di Kampung Marengo, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gajeboh untuk mengikuti workshop musik tradisional dan kerajinan tas (bag-craft), sekaligus menjelajahi lebih jauh wilayah Baduy Luar. Usai workshop, peserta bersiap kembali menuju Terminal Ciboleger, beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan pulang menuju kampus dan hotel, menutup rangkaian field trip yang penuh kesan tersebut.
Bagi penyelenggara, kegiatan ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan pengalaman pembelajaran langsung mengenai budaya, tradisi, keterampilan, serta sistem kehidupan masyarakat Baduy. Peserta dapat melihat sendiri bagaimana masyarakat Baduy mempertahankan identitas dan nilai-nilai adat di tengah kehidupan sehari-hari, sebuah pelajaran yang diharapkan tentang keberagaman dan kearifan lokal ini dibawa pulang oleh peserta dari Malaysia dan Thailand ke negaranya masing-masing.

