Pelopor Kasunyatan: Misi Profetik Masjid Kampus Merajut Peradaban Maritim Nusantara

Pelopor Kasunyatan: Misi Profetik Masjid Kampus Merajut Peradaban Maritim Nusantara

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. Dekan FKIP UNTIRTA

Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si. Dekan FKIP UNTIRTA – Masjid kampus memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada menyelenggarakan kegiatan ibadah dan pembinaan keagamaan. Di tengah perubahan dunia yang ditandai persaingan geopolitik, ketimpangan ekonomi, krisis kemanusiaan, kerusakan lingkungan, dan percepatan teknologi, masjid kampus perlu mengambil peran sebagai kekuatan moral dan intelektual masyarakat. Masjid harus menjadi basis gerakan sosial, pusat produksi pengetahuan, dan pelopor kolaborasi lintas bangsa. Dari ruang-ruang masjid kampus, kita dapat merajut kembali hubungan antarmanusia dan antarperadaban untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik.

Inilah saatnya masjid kampus Indonesia menjalankan misi profetiknya. Misi tersebut bertumpu pada tiga orientasi utama: liberasi, humanisasi, dan transendensi. Liberasi berarti membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, ketertindasan, ketidakadilan, dan berbagai bentuk ketergantungan. Humanisasi berarti memuliakan martabat manusia, membangun kesetaraan, merawat solidaritas, serta menghadirkan kesejahteraan tanpa diskriminasi. Sementara itu, transendensi menempatkan nilai-nilai ketuhanan sebagai sumber orientasi moral, integritas, dan tanggung jawab dalam seluruh tindakan. Ketiganya harus berjalan beriringan agar kesalehan tidak berhenti sebagai pengalaman individual, tetapi menjelma menjadi kekuatan yang memperbaiki kehidupan bersama.

Landasan tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an. QS Ali Imran ayat 110 menegaskan tanggung jawab umat untuk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. QS Al-Anbiya ayat 107 menempatkan risalah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sedangkan QS Al-Hujurat ayat 13 mengajarkan bahwa keberagaman bangsa dan suku merupakan jalan untuk saling mengenal. Ketiga pesan ini memberi arah bahwa dakwah tidak boleh terjebak dalam eksklusivisme. Dakwah harus memperluas kemaslahatan, membangun penghormatan terhadap martabat manusia, dan membuka ruang perjumpaan yang setara di antara berbagai kelompok dan peradaban.

Banten dan Tradisi Peradaban Maritim

Gagasan ini bukan sesuatu yang asing bagi sejarah Nusantara. Posisi kepulauan Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik telah menjadikan kawasan ini sebagai ruang pertemuan manusia, perdagangan, kebudayaan, agama, dan pengetahuan. Laut bukan sekadar pemisah antarpulau, melainkan jalur konektivitas yang mempertemukan berbagai bangsa. Melalui jalur maritim, gagasan dan tradisi keagamaan bergerak, berkembang, dan saling memengaruhi. Nusantara karena itu tidak tepat ditempatkan hanya sebagai pinggiran peradaban dunia, melainkan sebagai salah satu simpul penting dalam sejarah perjumpaan global.

Kesultanan Banten pada abad ke-17 memberikan salah satu gambaran tentang dinamika tersebut. Banten tumbuh sebagai pusat perdagangan dan diplomasi yang terhubung dengan berbagai kekuatan internasional. Hubungannya dengan dunia Islam, termasuk kawasan Utsmaniyah, serta dengan sejumlah kekuatan Eropa memperlihatkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara memiliki orientasi keluar dan kemampuan membangun hubungan lintas kawasan. Hubungan tersebut perlu dibaca dalam konteks diplomasi, perdagangan, dan pertukaran pengetahuan pada zamannya, bukan semata-mata sebagai hubungan kekuasaan. Sejarah ini menunjukkan bahwa identitas keislaman dan identitas kebangsaan dapat tumbuh bersama tanpa harus saling meniadakan.

Warisan peradaban maritim itu mengandung pelajaran penting bagi masa kini. Kekuatan Nusantara tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan posisi geografis, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan manusia, membangun kepercayaan, serta mengembangkan pertukaran pengetahuan. Tradisi keterbukaan dan perjumpaan tersebut perlu dihidupkan kembali dengan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman. Kita tidak cukup mengenang kejayaan pelabuhan dan kerajaan masa lalu. Kita harus membangun kembali kapasitas masyarakat untuk berkolaborasi, berinovasi, dan menghadirkan manfaat bagi dunia.

Baca Juga:  Final Pilmapres FKIP Untirta 2026 Berlangsung Dinamis, Angkat Inovasi Mahasiswa dari Berbagai Bidang

Masjid Kampus sebagai Infrastruktur Peradaban

Dalam konteks inilah masjid kampus perlu ditempatkan sebagai infrastruktur peradaban. Infrastruktur tidak selalu berupa jalan, pelabuhan, gedung, atau jaringan komunikasi. Ada pula infrastruktur sosial dan intelektual yang memungkinkan manusia membangun kepercayaan, bertukar pengetahuan, mengorganisasi solidaritas, dan melakukan tindakan bersama. Masjid kampus memiliki potensi besar untuk menjalankan fungsi tersebut karena mempertemukan spiritualitas, tradisi keilmuan, kehidupan mahasiswa, dan tanggung jawab sosial. Masjid dapat menjadi ruang yang menghubungkan nilai agama dengan persoalan nyata masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya keilmuan, laboratorium, tenaga ahli, mahasiswa, dan jaringan internasional. Masjid kampus dapat menjadi ruang yang mempertemukan seluruh potensi tersebut dalam agenda kemaslahatan. Di dalamnya, tradisi pesantren dapat berdialog dengan riset modern; halaqah dapat terhubung dengan laboratorium; dakwah dapat berkembang melalui inovasi digital; dan spiritualitas dapat menginspirasi kewirausahaan sosial. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk memproduksi, menguji, mengembangkan, dan membagikan pengetahuan.

Balai Kasunyatan FKIP UNTIRTA dapat menjadi salah satu titik pelopor gerakan ini. Penguatan pendidikan karakter, pembiasaan ibadah, halaqah, literasi Al-Qur’an, riset multidisiplin, filantropi, beasiswa bagi kelompok dhuafa, koperasi mahasiswa, dan pengembangan usaha mikro dapat dirangkai dalam satu ekosistem pengabdian. Berbagai kegiatan tersebut tidak seharusnya berjalan sebagai program yang terpisah. Semuanya perlu diarahkan untuk membangun kemandirian, memperluas kesempatan belajar, memperkuat solidaritas, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pengalaman lokal inilah gagasan kolaborasi yang lebih luas dapat dikembangkan.

Maritim sebagai Jalur Konektivitas Dakwah dan Kemanusiaan

Kita perlu memperluas pemaknaan maritim. Maritim bukan hanya sejarah pelayaran, perdagangan, atau persaingan geopolitik. Maritim adalah jalur konektivitas yang sejak lama mempertemukan masyarakat, kebudayaan, agama, ilmu pengetahuan, dan aktivitas kemanusiaan. Dalam sejarah Nusantara, jalur laut turut menjadi ruang penyebaran dakwah dan pertukaran gagasan. Pada masa kini, fungsi konektivitas tersebut dapat diperkuat melalui teknologi digital. Laut menghubungkan wilayah, sedangkan jaringan digital memperluas jangkauan komunikasi, pembelajaran, penelitian, dakwah, dan solidaritas lintas batas.

Karena itu, gerakan peradaban maritim harus menyentuh kehidupan nyata masyarakat. Nelayan, masyarakat pesisir, pelaut, pelaku usaha kecil, dan komunitas kepulauan merupakan bagian penting dari ekosistem maritim yang perlu memperoleh manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Persoalan ketahanan pangan laut, pengelolaan sumber daya pesisir, konservasi ekosistem, perubahan iklim, pendidikan masyarakat kepulauan, dan pemberdayaan ekonomi harus menjadi perhatian bersama. Peradaban maritim tidak akan bermakna apabila masyarakat yang hidup di kawasan pesisir justru tertinggal dan kehilangan akses terhadap kesejahteraan.

Digitalisasi memperluas peluang untuk menghubungkan berbagai potensi tersebut. Dakwah tidak lagi dibatasi ruang fisik, riset dapat dikerjakan oleh tim lintas negara, pembelajaran dapat berlangsung melalui kolaborasi daring, dan aksi kemanusiaan dapat dikoordinasikan melampaui batas geografis. Namun, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi harus menjadi sarana memperluas akses pengetahuan, memperkuat kapasitas masyarakat, dan mempercepat kerja sama yang bermanfaat. Konektivitas digital harus memperkuat, bukan menggantikan, hubungan kemanusiaan yang dibangun melalui kepercayaan dan kerja nyata.

Baca Juga:  Manusia Pancasila: Perspektif Pemuda Indonesia

Merawat dan Membagikan Warisan Intelektual

Salah satu modal terbesar Nusantara adalah warisan intelektualnya. Tradisi ulama, pesantren, manuskrip, pemikiran keislaman, bahasa, seni, pengetahuan maritim, dan kearifan masyarakat merupakan sumber pengetahuan yang tidak boleh terputus dari generasi berikutnya. Warisan tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu yang cukup disimpan di perpustakaan atau museum. Ia harus dirawat, dikaji, dikembangkan, dan dibagikan agar terus memberikan sumbangan bagi kehidupan masa kini dan masa depan.

Merawat warisan intelektual berarti mendokumentasikan, melindungi, dan menghidupkan kembali sumber pengetahuan yang terancam hilang. Mengembangkannya berarti mempertemukan khazanah tersebut dengan ilmu pengetahuan modern, teknologi, dan persoalan kontemporer. Membagikannya berarti membuka akses agar pengetahuan tidak dimonopoli oleh kelompok atau lembaga tertentu. Pengetahuan harus menjadi kekayaan bersama yang memungkinkan masyarakat saling belajar, saling menguatkan, dan maju bersama. Dengan cara itu, tradisi tidak menjadi beban masa lalu, tetapi sumber inspirasi bagi inovasi masa depan.

Perguruan tinggi dan masjid kampus dapat mengambil peran strategis dalam kerja tersebut. Penelitian manuskrip, kajian sejarah maritim, pengembangan literasi digital, pertukaran akademik, penerbitan bersama, dan pengembangan pusat dokumentasi dapat menjadi agenda kolaboratif. Mahasiswa perlu dilibatkan bukan hanya sebagai peserta kegiatan, tetapi sebagai peneliti muda, penggerak komunitas, dan penerus tradisi intelektual. Kita perlu memastikan bahwa warisan pengetahuan tidak hanya diwariskan, tetapi juga terus bertumbuh melalui perjumpaan dengan gagasan dan pengalaman baru.

Nusantara Maritime Civilization Network

Untuk mengorganisasi visi tersebut, saya mengajukan gagasan pembentukan Nusantara Maritime Civilization Network (NMCN) atau Jaringan Peradaban Maritim Nusantara. NMCN dirancang sebagai wadah kolaborasi perguruan tinggi, masjid kampus, komunitas intelektual muda, dan mitra lintas peradaban. Balai Kasunyatan FKIP UNTIRTA dapat menjadi salah satu titik pelopor, sementara jejaring ini dibangun secara terbuka dan egaliter. NMCN bukan proyek satu kampus, satu negara, atau satu kelompok keagamaan. Ia merupakan ruang bersama untuk mempertemukan potensi dan mengembangkan kerja sama yang saling menguatkan.

Ada tiga pilar yang dapat menjadi orientasi gerak NMCN. Pertama, Civilization Dialogue, yaitu dialog antarperadaban yang mengedepankan kesetaraan, saling menghormati, dan kesediaan belajar dari perbedaan. Kedua, Knowledge Collaboration, yaitu kerja sama dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, inovasi, dan pertukaran warisan intelektual. Ketiga, Humanity Action, yaitu tindakan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan, memperkuat solidaritas sosial, melindungi lingkungan, dan membangun perdamaian. Ketiganya merupakan satu kesatuan: dialog membuka jalan bagi kerja sama pengetahuan, sedangkan pengetahuan harus diwujudkan menjadi tindakan kemanusiaan.

Langkah awal dapat dimulai dari penguatan jejaring rumpun Melayu yang memiliki kedekatan sejarah, bahasa, dan kebudayaan. Perguruan tinggi dan komunitas di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, kawasan Patani di Thailand Selatan, Mindanao di Filipina, dan Singapura dapat menjadi bagian dari penjajakan kolaborasi. Kedekatan historis dan kultural menjadi modal awal, tetapi bukan alasan untuk menutup diri. Justru dari fondasi tersebut, jejaring perlu diperluas melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan komunitas di China, India, kawasan Arab, Persia, Turki, serta berbagai wilayah lainnya. Australia dan mitra dari kawasan lain juga dapat dilibatkan sebagai bagian dari kerja sama lintas peradaban.

Baca Juga:  FKIP Untirta Mantapkan Langkah Pembangunan Sekolah Laboratorium melalui Refleksi Program Kerja 2026

Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program pertukaran mahasiswa dan dosen, pembelajaran kolaboratif internasional atau Collaborative Online International Learning (COIL), penelitian bersama, penerbitan ilmiah, pengembangan pusat kajian maritim, digitalisasi manuskrip, serta pengabdian masyarakat lintas negara. Masjid kampus dapat menjadi simpul pertemuan dan penggerak program, sementara perguruan tinggi menyediakan dukungan akademik dan kelembagaan. Komunitas masyarakat menjadi mitra sekaligus penerima manfaat. Dengan pola ini, jejaring tidak berhenti sebagai forum pertemuan atau deklarasi, tetapi berkembang menjadi ekosistem kerja sama yang produktif.

Konsep korporasi masjid dapat memperkuat keberlanjutan gerakan tersebut. Korporasi masjid bukan komersialisasi tempat ibadah, melainkan pengelolaan potensi dan sumber daya secara profesional, transparan, akuntabel, produktif, dan berorientasi pada kemaslahatan. Penguatan pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf, pengembangan koperasi, usaha mikro, kewirausahaan sosial, filantropi, serta dakwah digital dapat menjadi bagian dari ekosistem kemandirian. Spiritualitas tetap menjadi fondasi, sementara tata kelola yang baik memastikan manfaatnya semakin luas. Masjid yang mandiri akan memiliki kapasitas lebih besar untuk mendukung pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan aksi kemanusiaan.

Tentu, gagasan sebesar ini membutuhkan tata kelola yang inklusif dan berkelanjutan. Kepemimpinan kolektif, pembagian peran yang adil, transparansi pendanaan, regenerasi mahasiswa, keterlibatan alumni, serta evaluasi dampak harus disiapkan sejak awal. Tidak boleh ada satu pihak yang mendominasi arah dan manfaat jejaring. Kesetaraan yang diperjuangkan dalam dialog antarperadaban harus tercermin pula dalam cara NMCN dikelola. Keberhasilan gerakan tidak diukur dari banyaknya deklarasi atau luasnya daftar anggota, melainkan dari kualitas pengetahuan yang dihasilkan, kerja sama yang terbangun, dan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

Dari Nusantara untuk Perdamaian Dunia

Pada akhirnya, visi ini mengajak kita menempatkan Nusantara sebagai simpul pertemuan peradaban dunia. Kita tidak sedang membangun jejaring untuk mendominasi bangsa lain atau menghidupkan kembali romantisme kejayaan masa lampau. Kita ingin mengembangkan tradisi keterbukaan, merawat warisan intelektual, memperluas konektivitas, dan membangun kerja sama yang memungkinkan setiap bangsa tumbuh bersama. Perdamaian tidak cukup diserukan dalam pidato dan deklarasi. Ia harus dibangun melalui pendidikan, pertukaran pengetahuan, keadilan sosial, kesejahteraan, perlindungan lingkungan, dan tindakan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Masjid kampus Indonesia memiliki peluang sekaligus tanggung jawab historis untuk mengambil peran tersebut. Dengan menjalankan misi profetik melalui liberasi, humanisasi, dan transendensi, masjid dapat melampaui batas kegiatan ritual tanpa kehilangan akar spiritualnya. Dengan dukungan perguruan tinggi, konektivitas maritim dan digital, serta jejaring intelektual lintas bangsa, masjid dapat menjadi infrastruktur peradaban yang menghubungkan nilai, pengetahuan, dan tindakan. Dari Balai Kasunyatan dan masjid-masjid kampus lainnya, gagasan ini dapat tumbuh menjadi gerakan kolaborasi yang lebih luas.

Peradaban tidak dibangun hanya dengan mengenang masa lalu, tetapi dengan keberanian mengorganisasi masa depan. Kita merawat warisan intelektual agar tidak hilang, mengembangkannya agar tetap relevan, dan membagikannya agar semakin banyak manusia memperoleh manfaat. Dari kesalehan individual menuju kesalehan sosial; dari masjid kampus menuju kolaborasi peradaban; dari konektivitas maritim Nusantara menuju aksi kemanusiaan global. Inilah misi profetik yang hendak kita perjuangkan: membebaskan manusia, memuliakan kemanusiaan, dan menghubungkan seluruh ikhtiar dengan nilai-nilai ketuhanan. Dari Nusantara, untuk kemajuan bersama dan perdamaian dunia. Wallahu a’lam.

Scroll to Top